Olah Limbah Kohe Menjadi Pupuk Organik, Mahasiswa KKN TK Unigoro Dukung Pelestarian Lingkungan

Jul 22, 2026 - 21:13
Jul 22, 2026 - 22:01
 0  16
Olah Limbah Kohe Menjadi Pupuk Organik, Mahasiswa KKN TK Unigoro Dukung Pelestarian Lingkungan
Warga menyaksikan langsung proses pengolahan limbah kotoran hewan

Bojonegoro, lensanarasi.com – Dalam rangka mendukung pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Kolaboratif (KKN TK) kelompok 18 Universitas Bojonegoro (Unigoro) menyelenggarakan pelatihan pembuatan kompos organik dari kotoran hewan/sapi (Kohe) di Desa Gamongan, Tambakrejo, Bojonegoro, Rabu (22/7/2026). Program ini bertujuan untuk mengolah limbah peternakan menjadi pupuk organik bernilai ekonomis sekaligus ramah lingkungan. 

Sebagai instruktur pelatihan, Muhammad Zainal Hidayat memaparkan Kohe yang tidak diolah dapat menjadi sumber masalah, Kohe mengandung gas amonia (NH3) dan hidrogen sulfida (H2S) yang dapat menyebabkan bau tidak sedap. Ia menjelaskan bahwa air lindi dari Kohe yang terkena hujan dapat mengalir hingga mencemari persawahan, kolam ikan, dan sumber air. Sebelum dijadikan pupuk, Kohe harus diolah untuk mengurai amonia dan membersihkan bakteri patogen yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Selain itu, Kohe yang masih segar mengandung panas yang bisa membakar dan merusak akar tanaman.

“Kohe juga mengandung bakteri, amonia, dan panas yang bisa membakar dan merusak akar tanaman, sehingga tidak bisa langsung dijadikan pupuk,” ujar Zainal saat pemaparan materi.

Untuk penguraian bakteri, Zainal mengenalkan Effective Microorganism 4 (EM4), yaitu cairan yang berisi kumpulan mikroorganisme yang bekerja secara sinergis untuk mempercepat proses penguraian. Ia juga memperkenalkan tetes tebu (Molase), adalah produk sampingan dari proses pembuatan gula tebu yang berupa cairan kental berwarna coklat tua seperti kecap.

Dalam pelatihan tersebut, warga diajarkan memformulasikan larutan aktivasi yang terdiri dari 10 ml EM4, 10 ml molase, dan 100 ml air. Setelah diaduk hingga rata, larutan tersebut disiramkan secara merata di atas tumpukan kohe setinggi 20–30 cm. Bahan kemudian diaduk kembali hingga mencapai tingkat kelembapan ideal—lembap namun tidak menetes saat diperas—sebelum akhirnya ditutup rapat menggunakan terpal untuk menjaga suhu dan kelembapan proses fermentasi. 

Setelah pemaparan materi, warga mempraktikkan langsung proses pengolahan kohe tersebut. Dengan bimbingan Zainal dan mahasiswa KKN TK lainnya, warga dapat mengetahui proses aktivasi bakteri pengurai serta teknik penutupan terpal yang benar agar fermentasi berjalan optimal. 

“Melalui kegiatan ini, saya harap masyarakat desa Gamongan mampu mengolah limbah kotoran sapi mereka, menjadi pupuk organik yang bermanfaat,” ungkap Zainal seusai pelatihan. (ant)

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0