Jebakan Toksik Produktivitas: Saat Asam Lambung Jadi Saksi Bisu Ambisi Mahasiswa
BOJONEGORO, lensanarasi.com — Bagi banyak mahasiswa baru, organisasi kampus kerap dianggap sebagai kawah candradimuka. Janji akan relasi luas, portofolio mentereng, hingga peningkatan soft skill kepemimpinan menjadi magnet yang sulit ditolak.
Namun, realitas di lapangan seringkali tak seindah brosur pendaftaran. Bagi Bunga (nama samaran), ambisi itu harus dibayar mahal. Di saat teman-teman sebayanya menikmati libur semester dengan berwisata, ia justru terjebak dalam ruang-ruang rapat kampus, menatap nanar unggahan liburan kawan-kawannya di media sosial.
"Jujur aku iri banget. Teman-temanku liburan, akunya malah di kampus ngurus organisasi. Sampai orang tuaku jarang lihat aku, lebih sering orang kampus yang lihat aku dalam sehari," ungkap Bunga dengan nada getir.
Tubuh yang Menjerit
Apa yang dialami Bunga adalah potret nyata dari toxic productivity. Dedikasinya berubah menjadi eksploitasi diri ketika ia dihadapkan pada jadwal yang tidak manusiawi: tiga kali rapat dalam sehari, ditambah tumpukan tugas kuliah dan laporan praktikum yang harus selesai dalam pekan yang sama.
Tubuhnya pun menyerah. Asam lambung (GERD) kambuh parah, disertai demam tinggi dan batuk pilek yang tak kunjung sembuh.
"Badan aku panas, batuk pilek, GERD kambuh. Tapi besoknya aku tetap harus masuk kelas dan ikut rapat karena ngejar deadline. Aku cuma tidur 1,5 sampai 2 jam," tuturnya.
Bahkan, ia mengaku pernah baru bisa pulang dari kampus pukul 1 dini hari demi menyelesaikan tanggung jawab organisasi. Ironisnya, di tengah kondisi fisik yang hancur itu, Bunga masih harus menghadapi tekanan sosial dari rekan-rekan organisasinya.
Ia sempat dianggap kurang loyal karena menolak membolos kuliah demi menghadiri agenda organisasi - organisasi yang diikuti.
"Mereka bilang, 'Kita juga ada kelas tapi milih di sini'. Tapi aku masa bodoh (I don't give a f**). Kewajiban utamaku tetap mahasiswa," tegasnya.
Psikolog: Wajar, Namun Berisiko
Fenomena yang kerap dialami aktivis mahasiswa ini mendapat sorotan tajam dari Psikolog Universitas Bojonegoro (Unigoro), Rio Candra Pratama, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Menurut Rio, keinginan mahasiswa mengikuti banyak organisasi sebenarnya adalah hal yang wajar karena masa remaja merupakan proses pencarian identitas. Namun, masalah timbul ketika hal tersebut berakar dari ketidakmampuan mengukur kapasitas diri.
"Remaja itu sering mengalami apa yang disebut Identity Crisis (Krisis Identitas). Karena bingung ingin menjadi apa, mereka mencoba banyak hal sekaligus. Masalahnya, ketika mencoba banyak hal, mereka tidak mengukur kapasitasnya," jelas Rio saat diwawancarai.
Rio menjelaskan korelasi medis antara kesibukan berlebih dengan gangguan fisik yang diderita Bunga. Setiap manusia memiliki batas kapasitas energi. Ketika dipaksa melampaui batas, tubuh memproduksi hormon stres (kortisol).
"Stres itu memunculkan hormon kortisol. Ketika hormon kortisol keluar berlebih, itu memicu asam lambung naik. Makanya, kenapa mahasiswa sering kena GERD atau maag? Karena kegiatan mereka melampaui kapasitas tampung stresnya," papar Rio.
Topeng Pekerja Keras
Lebih jauh, Rio mengkritik label hard worker atau pekerja keras yang sering dibanggakan mahasiswa sibuk. Menurutnya, label tersebut kerap kali hanyalah tameng atau mekanisme pertahanan diri (self defense mechanism).
"Ketika ada mahasiswa bilang 'Aku ini hard worker', 'Aku gila kerja', jangan-jangan itu hanya justifikasi atau pembenaran atas ketidakmampuan dia mengukur diri," tegasnya.
Sebagai penutup, Rio menekankan pentingnya Self Awareness (kesadaran diri). Mahasiswa harus berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri tentang tujuan dan batasan kemampuan mereka, sebelum terlambat.
"Jangan sampai semester tua baru sadar, 'Lho, kok aku belum lulus? Atau habis lulus aku mau ngapain?'. Itu tandanya kamu belum sadar saat mengambil keputusan di awal," pungkas Rio.
Kisah Bunga dan penjelasan dari Rio menjadi alarm bagi kita semua bahwa jaket organisasi yang gagah, tidak sebanding dengan mahalnya kesehatan fisik dan mental yang terkorbankan ketika dilakukan secara berlebihan. (MFA)
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
1
Wow
0

