Dua Dekade Ibu Sumari: Bertahan di Tengah Persaingan dan Bakti untuk Anak Tercinta

Feb 28, 2026 - 14:41
 0  22
Dua Dekade Ibu Sumari: Bertahan di Tengah Persaingan dan Bakti untuk Anak Tercinta
Ibu Sumari 58 Tahun, Penjual Kacang Goreng

BOJONEGORO, Lensanarasi.com  - Asap mengepul dari tungku sederhana, kacang kulit bergelimbung diatas kuali besar. Di sampingnya berdiri tegap seorang wanita paruh baya, namanya Ibu Sumari. Di usianya yang menginjak 58 tahun, gurat wajahnya adalah peta perjalanan panjang yang penuh peluh dan air mata. Selama lebih dari dua dekade, hidupnya dihabiskan untuk "berteman" dengan panasnya api dan asap pekat dari pembakaran batok kelapa—media rahasia yang membuat kacang kulit gorengnya tetap renyah di lidah pelanggan.

Lebih dari dua puluh tahun lalu, usaha kecil ini lahir dari keterbatasan. Modal yang dimiliki Ibu Sumari nyaris tak seberapa. Ia hanya mampu menggoreng lima kilogram kacang per hari, mengandalkan batok kelapa sebagai bahan bakar. Api kecil itu menjadi saksi bisu perjuangannya membesarkan tujuh orang anak, yang kini sebagian telah berkeluarga. Dari tungku sederhana itulah, roda kehidupan berputar pelan, namun pasti.

Dari lima kilogram kacang mentah dan tungku berisi batok kelapa sederhana, lahir sebuah usaha yang berhasil menghidupi tujuh anaknya, beberapa kini sudah berkeluarga. Dulu, ia menawarkan berbagai ukuran kemasan, dari yang paling kecil seharga seribuan hingga kemasan besar. Ketekunannya membuahkan hasil, usahanya berkembang, salesnya bertambah, dan namanya dikenal, kacang kulit goreng "Karya Anak Mandiri" menjadi langganan warung-warung dan toko kelontong. Namun, di balik kesuksesan usahanya itu, terselip ironi yang menyayat hati.

Pepatah Air Susu Dibalas Air Tuba memang benar adanya, itulah yang dialami Ibu Sumari. Satu per satu sales yang pernah bekerja dengannya, yang ia didik dan beri kepercayaan, perlahan pergi. Bukan sekadar mencari penghidupan lain, sebagian justru mendirikan usaha serupa dan mencoba bersaing langsung. Persaingan yang semestinya wajar di dunia usaha, perlahan berubah menjadi tidak sehat. Ketika kualitas produk tak mampu meruntuhkan dominasi kacang goreng Ibu Sumari, tangan-tangan tak terlihat mulai bermain. Dunia perdukunan dan serangan gaib dikirimkan untuk menjatuhkan usahanya, inilah sisi gelap dari sebuah kesuksesan. saat keberhasilan seorang janda tua menjadi duri di mata mereka yang haus akan ambisi.

Bagi Ibu Sumari menyerah bukanlah pilihan, masih ada sebagian anaknya belum berkeluarga yang menjadi tanggung jawabnya. Di sela-sela kesibukan mengurus produksi, ia harus merawat anak bungsu lelakinya yang menderita lumpuh saraf. Anak itulah yang menjadi bahan bakar semangatnya, lebih panas dan lebih tahan lama dari batok kelapa manapun.

Setiap wajan yang diangkat, setiap batok kelapa yang dibakar, adalah ikhtiar seorang ibu untuk memastikan anaknya tetap bisa hidup dengan layak. Kini di usia tuanya, Ibu Sumari memilih jalan yang lebih sederhana. Ia tak lagi melayani kemasan kecil. Fokusnya beralih ke kemasan 2 ons, 2,5 ons, hingga 4 ons. Langkah praktis untuk mengurangi kerumitan, karena tenaganya sudah tak sekuat dulu, dan yang lebih penting, ia bisa merawat anak-anaknya.

Hingga hari ini, kepul asap batok kelapa di dapur Ibu Sumari masih terus terjaga. Baginya, usaha ini bukan lagi sekadar persoalan persaingan pasar, melainkan wujud dedikasi seorang ibu untuk memastikan kebutuhan putranya tetap terpenuhi di tengah berbagai ujian hidup yang silih berganti.[vza]

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 1
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0