Tawa di Tepi Sungai Grogolan: Potret Anak-Anak Desa Ngunut yang Tumbuh Bersama Alam
BOJONEGORO, Lensanarasi.com — Di tengah arus modernisasi yang semakin deras, layar ponsel cerdas telah menjadi teman akrab bagi kebanyakan anak masa kini, pemandangan kontras dan menyejukkan justru terasa di Desa Ngunut, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro.
Di desa yang tenang dan asri ini, anak-anak masih memiliki kelekatan yang sangat hangat dengan alam. Mereka mengisi hari-hari dengan bermain air di Sungai Grogolan dan berlarian bebas di lapangan terbuka. Gadget bukanlah pusat tata surya mereka, melainkan sekadar pelengkap yang jarang tersentuh.
Setiap sore, tatkala matahari mulai condong ke barat dan angin berembus lembut, sekelompok anak terlihat berjalan beriringan menuju sungai. Aliran air jernih membelah desa itu tidak hanya menjadi ruang bermain, tetapi juga ruang belajar alami yang menyenangkan.
Dengan tawa lepas, mereka melompat dari batang pohon tumbang, lalu menjatuhkan diri dan berenang bebas di pelukan air. Tidak ada bunyi dering notifikasi, tidak ada tatapan kosong yang terpaku pada layar. Di sana, yang tertinggal hanyalah suara gemericik air dan canda tawa yang menghangatkan suasana.
Bagi anak-anak Desa Ngunut, sungai lebih dari sekadar tempat singgah. Di bentang alam itulah mereka belajar tentang keberanian, kerja sama, dan mawas diri. Mereka tahu kapan arus cukup aman untuk diselami, dan tak segan saling mengingatkan jika ada kawan yang berenang terlalu jauh dari tepian. Rasa peduli tumbuh secara organik, seiring interaksi fisik yang hangat dan tulus.
Bergeser tak jauh dari aliran sungai, sebuah lapangan desa menjadi saksi bisu keceriaan lainnya. Lapangan sederhana dengan hamparan rerumputan hijau itu selalu ramai menjelang senja.
Ada sekelompok anak yang bermain sepak bola dengan bola seadanya, ada yang asyik bermain petak umpet, atau sekadar duduk melingkar sambil bertukar cerita. Bahkan, debu yang menempel pekat di kaki dan pakaian bukanlah sebuah masalah. Hal itu justru menjadi lencana kebanggaan, penanda bahwa hari itu telah dihabiskan dengan penuh petualangan.
Orang tua di Desa Ngunut pun sangat mendukung tradisi bermain di luar rumah ini. Mereka menyadari betul bahwa berinteraksi langsung dengan alam memberikan nutrisi yang baik bagi tumbuh kembang anak. Fisik mereka menjadi lebih aktif, keterampilan sosialnya terasah tajam, dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar pun tumbuh subur.
Kebiasaan yang mungkin kini terasa langka dan mahal di hiruk-pikuk perkotaan, nyatanya masih menjadi rutinitas sederhana di Ngunut. Tanpa disadari, anak-anak di desa ini tengah merajut kenangan masa kecil yang mahal; tentang kebersamaan, tentang alam, dan tentang kebebasan bermain tanpa dibatasi ukuran layar.
Di saat dunia bergerak begitu cepat dengan teknologi di dalam genggaman, Desa Ngunut setia menghadirkan potret yang berbeda: anak-anak yang tumbuh tangguh dengan kaki berdebu, rambut basah oleh air sungai, dan hati yang dipenuhi tawa. Sebuah pengingat manis bahwa kebahagiaan sejati, sering kali bersemayam dalam kesederhanaan. (Pesma06)
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
0

