Menguak Misteri Sendang Penguripan: Jantung Sejarah dan Jejak Leluhur Desa Sendangrejo
BOJONEGORO, Lensanarasi.com — Jika mendengar nama Sendangrejo, mungkin akan terdengar seperti nama desa pada umumnya di telinga sebagian orang. Namun, tak banyak yang tahu bahwa desa di Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro ini, memiliki cerita mendalam yang terkait erat dengan kata Sendang. Sebuah sumber mata air yang bukan hanya menjadi urat nadi kehidupan, tetapi juga kunci pembuka babak sejarah desa yang selama ini masih tersimpan rapat.
Menurut penuturan sesepuh desa, Mbah Suwarno, atau yang akrab dipanggil Mbah Warno, kisah ini bermula dari kedatangan seorang juru dakwah di masa lampau.
“Awal mulanya ada seorang juru dakwah yang beristirahat di tempat itu. Karena beliau kehausan, beliau berinisiatif membuat lubang. Muncullah air yang oleh masyarakat setempat dinamakan sumberan Singo Joyodiharjo,” tuturnya menceritakan kisah turun-temurun.
Namun, air tersebut mengalir terlampau deras. Mengingat kawasan itu berada di dataran rendah, air pun menggenang dan konon sempat memicu wabah penyakit di tengah masyarakat.
Melihat hal itu, beberapa pekan kemudian, sumber air tersebut terpaksa ditutup menggunakan sebuah batu bekas tempat bersemedi sang juru dakwah. Sosok yang menutup sumber air itu dikenal dengan nama Mudin Donyo.
Tak berselang lama, sumberan itu kembali dibuka dan dijadikan sumur atau sendang yang masyhur dengan sebutan Sendang Penguripan (Mata Air Kehidupan). Banyak orang meyakini tuah air dari sendang tersebut, mulai dari perantara menyembuhkan penyakit hingga mempermudah urusan jodoh.
Menyatukan Tiga Wilayah
Kata Sendang sendiri bukanlah sekadar tempelan nama sembarangan. Di tanah Jawa, sendang merupakan sumber mata air alami yang mempunyai makna budaya dan spiritual yang tinggi, serta sering kali dianggap sebagai episentrum kehidupan masyarakat desa.
Bagi Sendangrejo, sendang tersebut merupakan cikal bakal terbentuknya permukiman. Di sanalah orang-orang mulai berkumpul untuk mencari air bersih dan membangun peradaban yang makmur hingga saat ini.
Sejarah administratif desa ini baru menemui titik terang pada tahun 1908. Kala itu, digelarlah musyawarah besar yang dihadiri oleh tiga pemimpin wilayah, yaitu Lurah Kuret, Lurah Kluweh, dan Lurah Kare.
Musyawarah itu sepakat memilih pemimpin baru bernama Kartojoyo untuk menyatukan wilayah tersebut menjadi satu desa bernama Sendangrejo. Desa ini juga mendapat tambahan dusun bernama Celeng, yang disebut sebagai tanah rampasan dari Dander peninggalan era kolonial Belanda. Sejak saat itu, Sendangrejo genap memiliki empat dusun.
Keunikan lain dari Sendangrejo adalah garis keturunan kepemimpinannya. Sejarah mencatat, pemerintahan desa ini mayoritas hanya dipegang oleh dua garis keturunan, yaitu keturunan Kartojoyo dan Mudin Donyo. Karena masa jabatan di masa lalu yang sangat lama, hingga saat ini tercatat baru lima orang yang pernah memimpin desa tersebut.
Sebagai wujud syukur dan penghormatan terhadap alam serta para leluhur, tradisi Sedekah Bumi masih terus dilestarikan. Ritual adat ini rutin dilaksanakan setiap bulan Suro (penanggalan Jawa), tepatnya pada hari Jumat Pahing. Sebuah pengingat bahwa di balik kemajuan zaman, Sendangrejo tak pernah melupakan mata air kehidupannya. (SLS)
Apa Reaksi Anda?
Suka
0
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
0
Wow
1

