Menelusuri Jejak Krungu Anut: Riwayat Sunyi di Balik Rindangnya Ngunut

Feb 26, 2026 - 21:04
 0  5
Menelusuri Jejak Krungu Anut: Riwayat Sunyi di Balik Rindangnya Ngunut
SAKSI SEJARAH: Rindangnya tegakan pohon jati dan jernihnya sumber mata air Grogolan di Desa Ngunut, Kecamatan Dander. Alam menjadi saksi bisu sejarah babat alas desa ini oleh Eyang Citro Suto yang mewariskan filosofi Krungu Anut (Mendengar dan Patuh). (Foto: Dok. Lensa Narasi)

BOJONEGORO, Lensanarasi.com — Di bawah naungan tegakan pohon jati yang kokoh di Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, terhampar sebuah wilayah yang menyimpan memori kolektif tentang kepatuhan dan kebijaksanaan.

Desa Ngunut, sebuah nama yang hari ini mungkin lebih dikenal karena jernihnya air wisata Grogolan, sejatinya memiliki akar sejarah yang jauh lebih dalam daripada sekadar destinasi liburan. Ia adalah sebuah monumen hidup dari filosofi Jawa yang luhur.

Sejarah Desa Ngunut tidak bisa dipisahkan dari etimologi namanya yang unik. Secara tutur tinular (cerita turun-temurun), nama Ngunut merupakan pengerutan kata atau akronim dari frasa bahasa Jawa yaitu Krungu Anut.

Krungu berarti mendengar, dan anut berarti mengikuti atau patuh. Penamaan ini bukan tanpa alasan. Konon, pada masa awal babat alas desa ini, terdapat seorang tokoh karismatik bernama Eyang Citro Suto.

Beliau dikenal sebagai sosok sesepuh atau cikal bakal yang memiliki kewibawaan luar biasa. Setiap tutur kata, petuah, dan arahan yang keluar dari lisan Eyang Citro Suto selalu didengar dengan saksama dan diikuti tanpa ragu oleh para pengikut serta anak cucunya.

Kepatuhan masyarakat inilah yang kemudian mengkristal menjadi identitas wilayah, sebuah tempat di mana orang-orangnya senantiasa mendengar dan mengikuti kebaikan.

Eyang Citro Suto bukan sekadar tokoh fiktif, melainkan simbol peradaban awal di selatan Bojonegoro. Dalam narasi sejarah lokal, beliau adalah sosok yang membuka lahan hutan jati yang angker menjadi permukiman yang layak huni. Keteladanan beliau dalam mengelola sumber daya alam seperti menjaga kelestarian mata air Grogolan menjadi fondasi karakter masyarakat Ngunut hingga hari ini.

Kepatuhan yang dimaksud dalam Krungu Anut bukanlah kepatuhan buta, melainkan rasa hormat (takzim) kepada pemimpin yang bijaksana. Hal inilah yang menjelaskan mengapa tata kelola kemasyarakatan di bawah pemerintahan desa, yang kini dipimpin oleh Kepala Desa Hadi Suwarno, masih memegang teguh asas kekeluargaan dan musyawarah yang kental.

Jika batu nisan atau bangunan tua sering kali menjadi bukti sejarah di tempat lain, di Ngunut, sejarah itu tertulis pada alamnya. Sumber mata air Grogolan dan Gua Grogol adalah saksi bisu bagaimana para pendahulu desa mempertahankan kehidupan di tengah hutan. Air yang mengalir tanpa henti dari perut bumi Ngunut adalah simbol keberlanjutan hidup yang diwariskan oleh para leluhur untuk dijaga, bukan dirusak.

Sejarah Ngunut adalah sejarah tentang harmoni antara pemimpin dan yang dipimpin. Ia mengajarkan bahwa sebuah komunitas akan kuat jika mereka mau saling mendengar (krungu) dan bersatu dalam langkah yang sama (anut).

Meskipun zaman telah berubah dan Ngunut kini bersiap menjadi desa modern yang mandiri, ruh Krungu Anut itu tetap ada. Ia mengalir sedalam air Grogolan, meresap di setiap jengkal tanah jati, dan menetap di hati setiap warga yang bangga menyebut diri mereka sebagai orang Ngunut. (Pesma06)

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 1
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 1