Sendang Arum Tirta: Air yang Mengingat, Desa yang Tak Lupa

Mar 1, 2026 - 13:37
 0  6
Sendang Arum Tirta: Air yang Mengingat, Desa yang Tak Lupa
Sendang Tirta Arum, Desa Sumberarum

BOJONEGORO, Lensanarasi.com — Sore datang lebih indah di Sendang Arum Tirta. Diiringi rintikan sisa hujan yang menetes dari sela dedaunan, jatuh membentur permukaan air yang tenang, lalu pecah menjadi gelombang kecil yang bergetar.

Udara di sekitarnya terasa lebih sejuk, seolah waktu enggan berlari di tempat ini. Di balik rindangnya pepohonan Desa Sumberarum, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Sendang Arum Tirta mengalir tenang. Ia seolah menyimpan cerita panjang tentang napas kehidupan warga setempat.

Airnya yang jernih bagai cermin memantulkan siluet langit, sementara gemericiknya menjadi irama alami yang menenangkan siapa saja yang datang. Bagi masyarakat setempat, sendang ini bukan sekadar sumber air, melainkan jantung kehidupan.

Lebih dari sekadar penanda geografis, ada kisah legenda epik yang terpatri di dalamnya. Konon, pada masa lampau, seorang tokoh penting dari Kerajaan Majapahit pernah singgah di tempat ini. Ia adalah Gajah Mada, sang Mahapatih yang masyhur dengan Sumpah Palapa dan tekad bajanya mempersatukan Nusantara.

Kisah itu hidup dan dihidupi dalam tuturan lisan para leluhur desa. Kepala Desa Sumberarum, Vinsensius Sugeng, menegaskan bahwa cerita tersebut telah mengakar menjadi bagian penting dari identitas masyarakat.

“Sejarahnya dulu bersumber dari cerita kakek-kakek kami. Sendang itu adalah sumber mata air yang sangat jernih dan pernah disinggahi oleh Patih Gajah Mada pada zaman kerajaan. Konon, beliau membasuh muka dan kaki di sini, dan tercium aroma harum dari airnya. Dari situlah dinamakan Sumber Arum. Ini menjadi warisan sejarah lisan yang kami jaga,” tuturnya.

Terlepas dari legenda yang menyertainya, Sendang Arum tetap menjadi ruang hidup yang nyata. Meski belum ditemukan manuskrip tertulis yang menguatkan kisah persinggahan Gajah Mada, legenda ini telah menjadi memori kolektif. Dalam tradisi masyarakat Jawa, sejarah lisan selalu memiliki tempat tersendiri sebagai penanda identitas dan kebanggaan lokal.

Airnya mungkin tetap sama, tetapi dunia di tepiannya perlahan berubah. Puluhan tahun lalu, tempat ini adalah primadona bagi warga untuk mengambil air kebutuhan rumah tangga. Anak-anak berlarian riang di tepinya, para orang tua bercengkerama sembari menimba air, dan gotong royong rutin digelar untuk memelihara kebersihannya.

Lebih lanjut, Vinsensius Sugeng menuturkan dinamika perubahan fungsi sendang dari masa ke masa.

“Awalnya sendang ini murni untuk mandi warga, serta minum para peternak dan ternaknya. Setelah kawasan ini dikembalikan menjadi hutan, warga sekitar kembali memanfaatkannya. Karena airnya jernih dan tidak pernah surut, sekarang areanya juga digunakan untuk kegiatan outbound sekolah dan tempat berenang,” ujarnya.

Di luar fungsi ekologis dan ekonomisnya, sendang ini juga sarat makna spiritual bagi sebagian warga. Ada kepercayaan turun-temurun bahwa menyampaikan harapan di punden desa, lalu berbasuh di sendang, dapat menjadi medium penyucian diri dan doa. Setiap tetes airnya seakan menjadi jembatan yang menautkan masa lalu dan masa kini.

Kini, Sendang Arum Tirta mulai bersolek menjadi destinasi wisata desa. Penataan kawasan dilakukan secara bertahap; mulai dari pembersihan lingkungan, pembangunan fasilitas sederhana, hingga penyediaan tempat duduk bagi pengunjung. Meski pengembangannya masih berproses, denyut nadi ekonominya mulai dirasakan warga melalui kemunculan usaha-usaha kecil di sekitar lokasi.

Pada akhirnya, Sendang Arum bukan sekadar ruang untuk memperdebatkan kebenaran empiris persinggahan Gajah Mada. Ia adalah monumen tentang bagaimana sebuah komunitas masyarakat merawat ingatannya. Tentang bagaimana air yang mengalir mampu menyatukan masa lalu dan masa depan dalam satu ruang keabadian.

Di tepi sendang itu, waktu terasa berjalan lebih pelan. Gemericik airnya yang tenang seperti membisikkan pesan; bahwa sejarah tidak melulu harus tertulis di atas prasasti batu atau kitab tua. Kadang, ia hidup dalam cerita sederhana yang dijaga dengan penuh keyakinan.

Dan selama mata air Sendang Arum terus mengalir, selama itu pula kisah tentang asal-usul dan kebanggaan Desa Sumberarum akan tetap hidup. Mengalir bersama harapan, menyatu dengan doa, dan menjadi cermin bahwa sebuah desa kecil pun berhak memiliki sejarah yang layak dikenang. [vza]

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0