Suara Alu Mbah Kastri: Merawat Warisan Leluhur Lewat Segelas Jamu Gepyok di Sendangrejo

Feb 22, 2026 - 14:56
 0  17
Suara Alu Mbah Kastri: Merawat Warisan Leluhur Lewat Segelas Jamu Gepyok di Sendangrejo
KAYA KHASIAT: Segelas Jamu Gepyok racikan Mbah Kastri yang dipercaya mampu melancarkan peredaran darah dan memulihkan tenaga. Di usia senjanya, ia berharap ada generasi muda yang mau meneruskan tradisi meracik jamu ini. (Foto: Dok. Pesma04)

BOJONEGORO, Lensanarasi.com — Di tengah hiruk-pikuk modernitas, aroma wangi rempah dan irama tumbukan alu masih setia menemani sore hari di Desa Sendangrejo, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro.

Di sebuah rumah sederhana, tampak Mbah Kastri (60). Meski usianya tak lagi muda, ia dengan tekun meracik jamu tradisional yang dikenal dengan nama Jamu Gepyok. Lebih dari sekadar minuman kesehatan, jamu bagi Mbah Kastri adalah warisan leluhur yang detaknya harus terus dijaga dan dilestarikan.

Keahlian meracik jamu legendaris ini ia warisi dari sang nenek buyut, seorang penjual jamu yang dahulu setia berkeliling memanggul rinjing (bakul anyaman bambu).

Mengikuti tradisi leluhur, proses pembuatan dan penjualan jamu ini dulunya sangat berpatokan pada hitungan pasaran Jawa, khususnya pada hari Legi dan Pon. Sejak kecil, Mbah Kastri sudah terbiasa bergelut dengan empon-empon, membantu sang nenek menumbuk bahan dan ikut berkeliling menawarkan jamu dari rumah ke rumah.

“Untuk bahan-bahannya biasa cari di sekitaran rumah atau sawah. Khusus kunyit, laos, dan asam jawa baru beli di pasar. Dulu, saya ikut keliling desa menawarkan Jamu Gepyok. Dari situ saya belajar tentang pembuatan dan cara memasarkannya,” kenang Mbah Kastri dengan tatapan menerawang, sembari tangannya tak henti menumbuk bahan di lesung.

Keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun itu akhirnya menjadi tumpuan hidup Mbah Kastri setelah ia menikah dan berkeluarga. Berbekal resep rahasia dan keahlian dari sang nenek, ia membulatkan tekad untuk memproduksi dan menjual jamunya sendiri.

Rutinitas itu tak pernah berubah. Setiap sore selepas salat Asar, Mbah Kastri mulai sibuk di dapur mempersiapkan bahan-bahan. Ia menyortir sendiri rempah-rempah segar dari kebun dan pasar.

Dengan menggunakan alat tradisional berupa lumpang dan alu, rempah-rempah itu ditumbuk menjadi satu hingga halus. Semua proses pembuatan Jamu Gepyok dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketelatenan tanpa bantuan mesin.

Tak heran, pelanggannya datang dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak muda hingga orang tua. Jamu Gepyok racikannya dipercaya memiliki segudang khasiat; mulai dari melancarkan ASI, meredakan nyeri dan peradangan, melancarkan peredaran darah, hingga menyegarkan tubuh.

“Jamu Gepyok ini rasanya segar dan enak di badan. Saya sering meminumnya untuk memulihkan tenaga,” ujar salah satu pelanggan setia Mbah Kastri.

Di usia senjanya, terselip satu harapan besar di hati Mbah Kastri. Ia mendamba ada generasi muda yang bersedia mempelajari dan meneruskan estafet tradisi ini. Ia pun membuka pintu lebar-lebar untuk berbagi ilmu kepada siapa saja yang memiliki niat tulus.

“Saya ingin melihat Jamu Gepyok ini tetap ada yang melestarikan dan bisa terus berkembang di zaman sekarang,” tuturnya penuh harap. (Pesma04)

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Marah Marah 0
Sedih Sedih 0
Wow Wow 0