Kritik Keras di Talkshow Argopala: Pecinta Alam Bukan Sekadar Penjelajah, Tapi Harus Berani Aksi Nyata
BOJONEGORO, lensanarasi.com — Diskusi panas mengenai definisi sejati "Pecinta Alam" mewarnai talkshow lingkungan yang digelar di Hall Suyitno Universitas Bojonegoro (Unigoro), Minggu (21/12/2025). Dalam forum bertajuk Peran Generasi Muda Mengenai Krisis Lingkungan tersebut, akademisi sekaligus pegiat lingkungan, Rizal Zubad Firdausi, S.T., M.T., melontarkan kritik tajam terhadap gerakan lingkungan yang hanya sebatas simbolis.
Dipandu oleh moderator Rizka Nur Aini, Rizal membuka sesi dengan menantang klaim yang menyebut Gen Z (27 persen populasi dunia) sebagai generasi paling peduli lingkungan.
"Mereka mengklaim generasi mereka paling peduli lingkungan, fakta atau hoaks? Mari kita lihat datanya," ujarnya.
Ia membeberkan empat fakta kelam kondisi lingkungan nasional saat ini: lonjakan deforestasi hingga 600 ribu hektare, eksplorasi pulau-pulau kecil untuk pertambangan, lemahnya penegakan hukum lingkungan, hingga kriminalisasi terhadap pejuang lingkungan.
Paradoks Sampah dan Banjir Bojonegoro
Tidak hanya bicara tataran nasional, Rizal membedah data lingkungan Bojonegoro yang dinilai penuh anomali. Ia menyoroti pengelolaan sampah yang sangat minim.
"Sampah di Bojonegoro sepanjang tahun 2025 mencapai 134.641,67 ton per tahun. Hanya 35,19 persen sampah yang terkelola. Sisanya? Ya ke TPA liar, sungai, dan lain-lain," ungkap Rizal.
Selain sampah, ia juga menyoroti pergeseran pola bencana banjir di Bojonegoro. Jika sebelumnya banjir didominasi luapan Bengawan Solo, belakangan ini banjir bandang justru marak terjadi di wilayah selatan seperti Gondang.
"Semua ini terjadi karena apa? Cuaca ekstrem, perubahan iklim, atau mungkin karena deforestasi yang semakin masif?" tanyanya retoris kepada peserta.
Di hadapan mahasiswa, Rizal menegaskan bahwa menjadi pecinta alam tidak cukup hanya dengan mendaki gunung atau menjelajah hutan. Pemuda hari ini dituntut memahami Daerah Aliran Sungai (DAS), fungsi hutan, dan mata air secara mendalam.
"Pecinta alam bukan hanya mendaki atau penjelajah, tapi harus berani melakukan aksi nyata konkret dalam menjaga alam. Cinta alam tanpa kebenaran melawan perusak hanyalah omong kosong," tegasnya.
Ia mendorong mahasiswa untuk bergerak dari level diri sendiri (gaya hidup sadar lingkungan) menuju level komunitas (advokasi kebijakan).
"Krisis lingkungan bukan soal idealisme, tapi soal siapa yang akan menanggung akibatnya. Kalau bukan kalian siapa lagi? Alam tidak butuh pahlawan, alam butuh aksi nyata," imbuhnya.
Antusiasme peserta terlihat saat sesi tanya jawab. Habib, mahasiswa Fakultas Pertanian Unigoro, menanyakan dilema pemuda dalam menegur masyarakat yang membuang sampah sembarangan tanpa adanya solusi fasilitas.
Menanggapi hal itu, Rizal mengakui bahwa infrastruktur adalah kunci.
"Di Indonesia, sampah sudah menjadi masalah sejak dahulu dan belum ada daerah yang benar-benar mencapai zero waste. Maka saran saya, pemerintah seharusnya membuat Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di setiap wilayah agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan," jawab Rizal.
Acara diskusi ini merupakan bagian dari agenda Dies Natalis ke-15 UKM Argopala yang dihadiri oleh Ketua Umum Wahyu Dwi Nugroho, Pembina UKM Ichwan Hadi Saputra, serta tamu undangan. (mfa)
Apa Reaksi Anda?
Suka
1
Tidak Suka
0
Cinta
0
Lucu
0
Marah
0
Sedih
1
Wow
2

